Jumat, 06 November 2009

kreatif

Apa sih arti seni itu di mata kamu?


Pasti terbayang seni itu sesuatu yang bersifat keindahan, bebas, tak mudah di pahami, atau pun apa lah... banyak


Ilmu saya tentang seni memang marih sedikit seperti debu yang tak berguna.... ataupun sampah..

Tak apa lah... Hehehe tapi saya siap berbagi dan menerima lebih banyak ilmu tentang seni...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

aaauu

aaauu
aku lagi stres...

seni?

Keterasaan pada aktifitas seni rupa namun tak dinyatakan atau bahkan tak terdefinisikan sangat tidak adil bila diarahkan pada kesalahan. Begitu juga seni rupa yang gampang disusupi pada persoalan keterasaan yang minim dari ungkapan atau definisi terutama dari publik luas. Hal seperti ini mungkin hanya akan berlaku ketika keterasaan dan pengakuan pada apa itu seni rupa masih terkoptasi pada tradisi high art atau karya-karya ekspresi persoanal.ppd

How art made the world (bagaimana seni membentuk dunia) terbitan BBC mungkin bisa menjadi singgungan yang menarik dalam melihat persoalan terasa atau merasasakan. Sebuah kajian yang dipresentasikan Dr. Nigel Spivey mengupas bagaimana citra seni dimanfaatkan dan seni menjadi sesuatu yang sangat berpengaruh dalam membentuk dan membaca manusia saat mengenal realitas di sekitarnya. Namun demikian di sini saya tidak bermaksud membahas bagaimana film tersebut, melainkan mencoba memetik dan menganalogikan pandangan yang tersaji ke realitas pemanfaatan seni itu sendiri dalam ranah kehidupan.

2007

Salah satu kalimat yang menurut saya menarik dalam film tersebut adalah; “ How humans made art and art made human.” (bagaimana menusia membentuk seni dan seni membentuk manusia), atau rentangan kata yang menurut pandangan saya sangat dekat dengan peroses pernyataan keterasaan akan kekuatan citra melalui karya seni rupa. Kenapa persoalan yang diusung kalimat “How humans made art and art made human.” bisa berpotensi dan sangat dekat dengan peroses pernyataan keterasaan karya seni itu sendiri? Kejelasan yang telah ada akan lebih tampak lagi jika diurai dari praktek yang telah dicontohkan industrialisasi kapitalis terutama di ruang ruang publik seperti media cetak/elektronik, di pasar, jalanan bahkan di angkutan umum. Lebih tajamnya, jika ditelusuri dari sisi masyarakat yang berkomunikasi dengan karya seni para kapitalis itu sendiri, semisal billboard ceperalias papan iklan sebagai salah satu karya seni pilihan kapitalis, apa kira-kira yang terjadi pada masyarakat ketika melihatnya? Secara umum apa kemungkinan yang akan tergambar di benak setiap individu yang selalu berada di sekelilingnya? Jika mungkin ditarik salah satu indikator yang muncul saat masyarakat berkomunikasi dengan karya seni rupa tersebut, tak lain masyarakat akan memiliki kemampuan luar biasa untuk membaca kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya. Dan apa yang dilihatnya (karya seni kapitalis) itu juga seperti mampu memberi solusi dalam menutupi kekurangan yang terbaca tersebut (seperti iklan bedak, pembersih muka, pakaian, HP dan seterusnya). Tidak hanya itu, realitas-realitas imajiner yang dibangun karya seni tersebut dengan sendirinya terintegrasikan secara sadar atau tidak pada pola-pola kehidupan masyarakat. Alhasil prilaku yang terbentuk akibat pencitraan karya seni tersebut jelas berpotensi membangun konstruksi sosial masyarakat “baru” serta pencangkokan epistemologi metaforis buatan kapitalis. Pun demikian kinerjanya, juga disadari sangat tipis sekali kemungkinan akan masyarakat paham media yang mempengaruhi mereka tersebut merupakan karya seni yang selama ini mungkin dianggap remeh temeh. Inilah yang dimaksud keterasaan karya seni tetapi tidak dinyatakan secara eksplisit.

Kendati demikian, jangan heran dengan seniman/masyarakat seni lainnya yang biasannya menghadirkan karya seni untuk kepentingan ekspresi personal dapat diharapkan dapat bersaing dalam wilayah pencitraan nilai-nilai/pesan sosial dan usaha untuk mengembangkan wacana pencerdasan bagi masyarakat. Hal ini terjadi tentu bukan persoalan ketidakpekaan senimannya, melainkan bisa akibat pencitraan yang tak berimbang. Sebab bagaimanapun pemahaman penuh kesadaran yang berkembang pada publik akan seni yang untuk mereka apresiasi secara mendalam adalah karya yang biasanya dipayungi tradisi high art kendati yang sangat berperan banyak dalam membentuk pemahaman dan aktivitas publik itu sendiri adalah karya seni yang mampu menembus ruang publik seperti karya-karya seni kapitalis.

Sejauh pengamatan, kesadaran akan hal ini juga sudah menjadi bahasan di kalangan seniman dan pemerhati seni katakanlah Indonesia. Namun apakah dari sisi publik luas keterasaan pada karya seni itu perlu disadari seperti bagaimana pelaku/pecinta seni memahaminya? Atau menjadikan masyarakat tidak perlu mendefinisikan apa yang mereka lihat melainkan nikmati dan jalani saja tanpa ada defenisi atau intrupsi.

Harus diakui bahwa hampir seluruh ruang-ruang strategis seperti televisi, surat kabar, termasuk persimpangan jalan bahkan angkutan umum telah dimanfaatkan sebagai alat komunikasi komersial seperti di kota-kota besar terutama Jakarta. Luar biasa para kapitalis itu! terutama untuk memanfaatkan apa saja demi mengepung pandangan masyarakat dengan dagangannya. Namun di sudut lain ternyata terdapat celah bagi tumbuhnya kesadaran lain dalam memanfatkan ruang publik seperti angkutan umum itu sendiri. Kalu kita coba bermain dalam rangka menjelajahi pemanfaatan karya seni mungkin bisa kita lihat dari sudut kepulauan Indonesia, misalnya saja kota Padang. Awalnya roses kreatif yang dilakukan pemilik angkutan memang hanya untuk kepuasan personal. Namun seiring kesadaran akan pembacaan terhadap gejala publik akan kerja yang mereka lakukan berkembang untuk mengeser paradigma publik. Yaitu dengan menjadikan seni sebagai power dalam memikat perhatian konsumen (penumpang) dan singkat kata strategi merekapun berhasil. Lebih lanjutnya, pemilik angkutan umum yang menyentuh angkutannya dengan karya seni, secara mentalitas telah berpengaruh terhadap cara pandang masyarakat terhadap angkutan itu sendiri. Biasanya masyarakat tidak memiliki keinginan untuk persoalan memilih-milih angkutan berubah menjadi orang yang selektif dalam memilih angkutan yang akan dinaikinya terutama kawula muda. Namun di sini hal yang sangat menarik adalah adanya kesadaran memanfaatkan seni untuk kepentingan pencitraan tentunya. Sehingga seni yang mereka bentuk dengan sendirinya telah mengkonstruksi pemahaman publik terhadap sesuatau itu sendiri—seperti pandangan terhadap angkutan umum.

Kembali pada sejauh apa seni berpengaruh terhadap masyarakat atau personal mungkin dapat diukur dari sejauh apa pula kepentingan dalam memahami dan memanfaatkan seni itu sendiri. Dengan kata lain, membaca bagaimana masyarakat memosisikan seni dalam merefleksikan pemikiran atau gaya hidupnya dan hal inilah kemudian dibaca sebagai kesadaran alamiah/arbiteris akan seni itu sendiri. Namun hal yang tentu lebih berkontribusi adalah praktek yang mengarah pada kepentingan pemanfaatan ruang-ruang strategis dan sebisanya menjadi proiritas terutama untuk kerja pembangunan konstruksi sosial. Sehingga sisi lain yang menyadari segala hal yang aktual jikalau keaktualan itu sendiri tidak dapat membantu publik luas untuk memahami relitas sekelilingnya, mari mencaci-maki keaktualan yang tak berguna tersebut. Sebab keterasaan pada karya seni bagi masyrakat jelas sudah terasa dampaknya kendati tidak dibebani dengan definisi. Namun setidaknya harapan akan kesadaran pemaknaan filosofis mengapa karya seni sangat berpengaruh bisa diintegrasikan dengan makna-makna praktis dalam memaknai karya seni dan realitas. Sehingga praktek simbolik yang sampai sekarang masih dianggap penting bisa terus dimanfaatkan untuk membantu mengungkap dan menjawab tantangan zaman yang konon katanya tak kenal iba.